View this post on Instagram
Dalam pendekatan sekolah fitrah, perjalanan bukan sekadar perpindahan tempat, tetapi sarana menumbuhkan jiwa. Ketika teman-teman muda menapaki Banyumas, mereka tidak hanya berjalan di atas tanah bersejarah, tetapi sedang melakukan ekspedisi jiwa—menemukan akar, mengenali peradaban, dan memahami dari mana sebuah bangsa dibangun. Inilah ciri utama sekolah selaras fitrah, yang melihat proses belajar sebagai perjalanan menyeluruh: intelektual, emosional, spiritual, dan sosial.
Melalui setiap tapak langkah, anak-anak belajar bahwa Islam berdiri atas fondasi tauhid dan ketekunan menuntut ilmu. Mereka mendapati bahwa peradaban besar tidak lahir dari kemewahan, melainkan dari iman, kerja keras, dan dedikasi para ulama serta tokoh terdahulu. Setiap sudut sejarah yang mereka temui mengajarkan rasa syukur; setiap kisah yang mereka dengar meneguhkan kesadaran bahwa kemajuan selalu berakar pada iman dan usaha.
Inilah bagian penting dari pendidikan berbasis fitrah: menumbuhkan fitrah bernalar, fitrah individu, dan fitrah sosial. Anak-anak diajak untuk memahami makna peradaban secara utuh—bukan hanya sebagai cerita masa lalu, tetapi sebagai cermin yang membimbing masa depan. Mereka merasakan bahasa, estetika, dan nilai-nilai luhur yang menjadi bagian dari perjalanan bangsa.
Sejalan dengan visi sekolah berbasis minat dan bakat, ekspedisi seperti ini memberi ruang bagi anak untuk mengalami belajar secara langsung, merasakan sejarah dengan indera, dan memaknai nilai-nilai dengan hatinya. Saat mereka berinteraksi dengan tempat, tokoh, dan kisah, fitrah ingin tahu dan fitrah kepemimpinan tumbuh dengan alami.
Di situlah adab ditanamkan. Adab bukan hanya diajarkan, tetapi dipraktikkan—sebagai mahkota ilmu. Anak belajar menghormati tempat, menjaga lisan, bersikap sopan kepada sesama, hingga menghayati perintah Allah dalam QS. Al-Mulk: 15 yang memerintahkan manusia untuk berjalan di muka bumi dan mengambil pelajaran dari rezeki serta tanda-tanda-Nya.
Ekspedisi Banyumas bukan sekadar menapak masa lalu, tetapi menyiapkan jiwa generasi hari ini. Generasi yang bukan hanya cerdas, tetapi beradab; bukan hanya tahu sejarah, tetapi bangga akan akar; bukan hanya memahami nilai, tetapi menebarkan kebaikan. Inilah tujuan pendidikan berbasis fitrah—menumbuhkan manusia yang utuh, bersyukur, dan berakar pada iman dalam setiap langkah kehidupannya.




