Belajar dari Alam, Bersyukur pada Pencipta: Pendidikan Fitrah yang Menghidupkan Hati

Dalam konsep sekolah fitrah, alam bukan hanya ruang bermain, tetapi juga guru pertama yang penuh hikmah. Saat langkah-langkah kecil anak-anak menyusuri jalan desa, pandangan mereka tidak sekadar tertuju pada tanah yang dipijak, tetapi menembus luasnya ciptaan Allah. Suara angin yang berdesir, kokok ayam di kejauhan, hingga gemericik air yang mengalir pelan—semuanya menjadi pelajaran hidup tentang keras dan lembutnya ciptaan, tentang harmoni yang Allah bentangkan bagi manusia.

Inilah salah satu ciri kuat dari sekolah berbasis fitrah, yaitu menghadirkan pengalaman belajar yang menghubungkan anak dengan alam sebagai tanda kebesaran-Nya. Anak-anak belajar bahwa setiap daun yang bergoyang, setiap makhluk yang bernapas, hingga sinar matahari yang hangat, bukanlah kebetulan. Semua itu adalah ayat kauniyah—tanda-tanda Allah yang mengajarkan rasa syukur dan rasa takjub.

Tadabbur ayat tidak hanya dilakukan melalui mushaf, tetapi juga melalui bumi yang terbentang sebagai kitab terbuka. Allah berfirman dalam QS. Ali Imran: 190, “Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang, terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal.” Inilah landasan mengapa eksplorasi alam sangat relevan dalam pendidikan berbasis fitrah.

Melalui kegiatan jelajah desa, anak-anak tidak sekadar berjalan. Mereka sedang belajar berjalan di muka bumi dengan hati yang peka, mata yang penuh syukur, dan jiwa yang bebas bertanya. Pendekatan seperti ini sejalan dengan visi sekolah berbasis minat dan bakat, di mana proses belajar dirancang alami, menyenangkan, dan memberi ruang bagi rasa ingin tahu. Anak diajak menemukan kemampuan dirinya melalui interaksi langsung dengan lingkungan, bukan hanya melalui buku atau kelas tertutup.

Setiap suara alam, setiap keindahan desa, hingga setiap aktivitas sederhana seperti mengamati hewan atau meraba tekstur tanah—semuanya dirancang untuk menghidupkan fitrah belajar yang Allah tanamkan dalam diri anak. Ketika mereka dibiasakan melihat alam sebagai ayat-ayat kebesaran-Nya, maka tumbuhlah karakter yang lebih beradab, rendah hati, dan bersyukur.

Dengan pendekatan sekolah fitrah, belajar dari alam bukan hanya metode, tapi perjalanan spiritual. Anak-anak belajar menghubungkan ilmu dengan Sang Pencipta, menguatkan rasa cinta pada kehidupan, sekaligus menemukan potensi diri yang selaras dengan minat dan bakat mereka. Dan dari langkah kecil di jalan desa itu, lahirlah insan yang lebih bijak dalam memaknai hidup.

Leave a Comment